Mengenal Etika Bisnis dalam Islam

MENGENAL

ETIKA DAGANG SYARIAH

Oleh:

Achmat Subekan*)

Abstrak

Perdagangan merupakan kegiatan ekonomi yang hampir pasti ada di setiap daerah. Melalui transaksi ini penjual dan pembeli dapat mengambil manfaat dalam pemenuhan kebutuhan ekonominya. Dalam pandangan ekonomi Islam, perdagangan harus memiliki karakteristik: 1) harta adalah milik Allah SWT dan manusia sebagai khalifah harta, 2) terikat dengan aqidah, syari’ah, dan akhlaq (moral), 3) seimbang antara keruhanian dan kebendaan, 4) adil dan seimbang dalam melindungi kepentingan ekonomi individu dan masyarakat, 5) Tawasuth dalam memanfaatkan kekayaan, 6) memperhatikan kelestarian sumber daya alam, 7) anjuran kerja, 8) kewajiban berzakat, dan 9) larangan riba. Sebagai salah satu bentuk interaksi sosial, perdagangan memiliki etika yang harus ditaati oleh setiap pelakunya. Dalam pandangan ekonomi Islam, etika ini disebut sebagai etika dagang syariah. Etika dagang syariah dapat dilihat dari aspek: 1) waktu pelaksanaan transaksi perdagangan,  2) komoditi barang/jasa yang diperdagangan, 3) pelaku perdagangan, 4) tempat perdagangan, dan 5) proses perdagangan yang dilaksanakan. Dengan diterapkannya etika dagang tersebut, maka perdangan dapat memberikan manfaat terbesar kepada para pihak yang terkait.

Kata kunci: perdagangan, karakteristik, etika syariah,  tawasuth, zakat, dan riba.

 A.  Pendahuluan

Perdagangan merupakan salah satu aktivitas dalam perekonomian guna memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat. Dalam perdangangan, baik penjual maupun pembeli sama-sama mendapatkan manfaat. Penjual dapat memperoleh keuntungan sehingga dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan investasi. Sementara itu, pembeli dapat memperoleh manfaat yang lebih besar daripada uang yang dikeluarkannya.

Perdagangan juga merupakan interaksi antarpihak, yakni antara penjual dan pembeli. Dengan demikian, hubungan antara keduanya memiliki aturan ataupun etika yang perlu diperhatikan. Masyarakat pada umumnya juga telah memiliki etika dalam melaksanakan perdagangan. Bahkan peraturan perundangan juga ada yang dibuat oleh negara untuk melindungi kepentingan penjual, pembeli, dan masyarakat pada umumnya.

Sebagai agama yang sempurna, Islam mengatur segala kehidupan manusia. Aturan yang dikeluarkan Islam ada yang sangat rinci dan ada kalanya pada pokok-pokoknya saja. Islam juga memiliki ayat Alquran ataupun Hadis Nabi saw yang menjadi pedoman dalam melakukan perdagangan. Artikel ini akan berusaha untuk mengkaji berbagai ketentuan syariat yang mengatur mengenai perdagangan dalam pandangan syariat.

B.  Karakteristik Perdagangan Dalam Islam

 

Islam memiliki pandangan yang berbeda terhadap perdagangan apabila dibandingkan dengan teori kapitalisme dan komunisme. Menurut Ahmad Asyhar Shafwan,[1] perdagangan dalam Islam memiliki karakteristik sebagai berikut:

  1. Harta kepunyaan Allah dan manusia khalifah harta

Segala yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah SWT. Manusia hanya memanfaatkan dan mengelolanya. Manusia adalah khalifah untuk mengelola alam, termasuk komoditi yang diperdagangkan. Hal ini didasarkan pada QS Al-Maidah: 17.

  1. Terikat dengan aqidah, syari’ah, dan akhlaq (moral)

Seluruh ajaran Islam harus menjadi pedoman orang mukmin. Dalam Alquran Surat Albaqarah: 208, Allah memerintahkan manusia untuk masuk/melaksanakan Islam secara keseluruhan (kaffah). Kegiatan perdagangan juga harus tetap berpedoman pada ajaran Islam.

  1. Seimbang antara keruhanian dan kebendaan

Islam mengajarkan keseimbangan (tawasuth) dalam berbagai hal, termasuk dalam memandang materi/benda. Hal ini sesuai dengan QS Al-Qashash: 77.

  1. Adil dan seimbang dalam melindungi kepentingan ekonomi individu dan masyarakat

Islam memberi kesempatan individu memiliki harta dalam batas-batas tertentu sesuai dengan tugas manusia sebagai khalifah Allah sehingga peluang tindak kezhaliman melalui harta dapat dicegah. Dipihak lain negara juga diberi kesempatan menguasai dan mengatur harta, akan tetapi semua itu demi mewujudkan kemakmuran bersama dan bukan untuk dijadikan alat kesewenang-wenangan. Karakter ini didasarkan pada QS. An-Nisa’: 29.

  1. Tawasuthdalam memanfaatkan kekayaan

Alquran memberi petunjuk tentang bagaimana manusia sebagai konsumen memanfaatkan kekayaannya, yakni tidak berlebihan, dan tidak kikir. Cara pembelanjaan yang tengah-tengah ini sesuai dengan QS Al-Furqan: 67.

  1. Kelestarian sumber daya alam

Problem ekonomi dalam pandangan Islam tidak terletak pada kelangkaan sumber daya alam, tetapi terletak pada kelemahan atau kelalaian upaya dan amal usaha manusia. Islam sangat menghargai pelestarian alam. Kegiatan perdagangan dengan mengksploitasi kekayaan alam secara berlebihan tidak dibenarkan dalam Islam. Perbuatan yang merusak alam harus dihindari. Allah Swt berfirman yang artinya: Maka sempurnakan takaran dan timbangan, dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang mereka, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu dari golongan orang-orang mukmin. (QS Al-A’raf : 85).

  1. Kerja (tidak menunggu)

Islam memandang bahwa bekerja untuk mencari rizki yang halal merupakan bagian dari ibadah dan jihad di jalan Allah. Allah berfirman yang artinya: Apabila telah ditunaikan shalat (Jum’ah), maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung (QS Al-Jum’ah: 10). Dengan demikian keadaan ekonomi setiap manusia di muka bumi sangat bergantung pada usaha yang dilakukannya.

  1. Zakat

Allah Swt mewajibkan manusia muslim menyisihkan sebagian kecil dari harta yang ada padanya sebagai zakat. Zakat dimaksudkan untuk membersihkan jiwa dari kikir, dengki, dan dendam sekaligus sebagai bentuk nyata kepedulian pemilik harta terhadap para dhu’afa. Allah berfirman yang artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan men-suci-kan mereka.” (QS Al-Taubah : 103).

  1. Larangan Riba

Islam menekankan pentingnya memfungsikan uang pada bidangnya yang normal, yaitu sebagai fasilitas transaksi dan alat penilai barang. Di antara penyelewengan uang dari bidangnya yang normal adalah transaksi yang mengandung riba. Perdagangan yang sesuai dengan ajaran Islam harus terhindar dari riba. Allah Swt berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan (QS. Ali Imran: 130).

C.  Etika Syariah Dalam Perdagangan

Islam tidak hanya mengatur mengenai ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga mengatur hubungan antarsesama manusia (muammalah). Kegiatan perdagangan juga tidak luput dari aturan yang ada dalam Islam (Alquran dan Hadis). Sebagai hubungan antarmanusia, mammalah memiliki hukum asal al-ibaahah (boleh) selama tidak ada dalil yang melarangnya”.[2]Hal ini juga bersesuaian dengan Alquran Surat Albaqarah: 275 yang menyatakan bahwa “Allah telah menghalalkan jual beli”.  Meski demikian, bukan berarti tidak ada rambu-rambu yang mengatur perdagangan. Ada perangkat atau ketentuan yang harus dipenuhi dan dipatuhi oleh setiap orang yang hendak melakukan aktivitas perdangan sebagaimana ulasan di bawah ini.

1.   Waktu

Kegiatan perdagangan diperbolehkan sepanjang tidak dilakukan pada waktu-waktu yang dilarang. Waktu yang dilarang untuk melakukan perdagangan misalnya pada saat khotbah jumat sedang berlangsung. Hal ini ditegaskan dalam QS. Al-Jum’ah 11.

“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah sebaik-baik pemberi rezeki.

1.   Komoditi barang/jasa yang diperdagangan

Barang/jasa yang diperdagangkan harus halal. Tidak dibenarkan memperjualbelikan barang/jasa yang diharamkan oleh syariat. Minuman keras (narkoba) dan daging babi adalah contoh barang yang haram, untuk itu syariat juga melarang memperdagangkannya. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkan memperdagangkan arak, bangkai, babi, dan patung.” (Riwayat Bukhari dan Muslim). Larangan memperdagangkan barang/jasa yang haram tidak hanya berlaku pada arak, bangkai, babi, dan patung, tetapi juga pada semua komoditi yang diharamkan. Hal ini ditegaskan dalam hadis: “Sesungguhnya Allah apabila mengharamkan sesuatu, maka Ia haramkan juga harganya.” (Riwayat Ahmad dan Abu Daud).

Di samping halal, barang yang diperdagangkan juga harus jelas. Tidak dibenarkan memperdagangkan komoditi yang tidak jelas atau samar. Perdagangan terhadap barang yang masih samar dikhawatirkan akan merugikan salah satu pihak, penjual ataupun pembeli. Apabila kesamaran tersebut tidak seberapa, dan dasarnya ialah urfiyah (kebiasaan).

2.   Pelaku perdagangan

Penjual dan pembeli harus memenuhi syarat aqil dan baligh untuk dapat melaksanakan transaksi perdagangan. Persyaratan ini dimaksudkan untuk melindungi keduanya dari tindakan penipuan dan tindakan lain yang merugikan. Kedua pihak harus memiliki etika akhlak yang mulia, antara lain:

  1. Shidiq (jujur)

Seorang pedagang wajib berlaku jujur dalam melakukan usaha jual beli. Jujur dalam arti luas. Tidak berbohong, tidak menipu, tidak mengada-ada, tidak berkhianat,  tidak ingkar janji, dan lain sebagainya. Mengapa harus jujur? Karena berbagai tindakan tidak jujur selain merupakan perbuatan yang berdosa juga berpengaruh negatif pada kehidupan pribadi dan keluarga pedagang/pembeli itu sendiri. Dalam Al Qur’an, keharusan bersikap jujur dalam berdagang disebutkan dalam firman Allah yang artinya ”Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan, dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi ini dengan membuat kerusakan.” (QS. AsySyu’ara: 181-183). Rasulullah SAW pun bersabda yang artinya:“Pedagang yang jujur serta terpercaya (tempatnya) bersama para Nabi, orang-orang yang jujur, dan orang-orang yang mati Syahid pada hari kiamat”. (HR. Bukhari, Hakim, Tirmidzi dan Ibnu Majjah)

  1. Amanah (tanggungjawab)

Setiap pedagang harus bertanggung jawab atas usaha, pekerjaan, dan profesi yang telah dipilihnya tersebut. Tanggung jawab di sini artinya, mau dan mampu menjaga amanah (kepercayaan) masyarakat. Dengan demikian, kewajiban dan tanggungjawab para pedagang antara lain: menyediakan barang dan/atau jasa kebutuhan masyarakat dengan harga yang wajar, jumlah yang cukup serta kegunaan dan manfaat yang  memadai. Dan oleh sebab itu, tindakan yang sangat dilarang oleh Islam – sehubungan dengan adanya tugas, kewajiban dan tanggung jawab dan para pedagang tersebut – adalah menimbun barang dagangan. Menimbun barang dagangan (terutama barang kebutuhan pokok) merupakan tindakan yang tidak bertanggung jawab dan dilarang keras oleh Islam. Perbuatan tersebut menimbulkan keresahan dan merugikan masyarakat. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Allah tidak akan berbelas kasihan terhadap orang-orang yang tidak mempunyai belas kasihan terhadap orang lain.” (HR. Bukhari).

  1. Tidak menipu

Dalam suatu hadis dinyatakan, seburuk-buruk tempat adalah pasar. Hal ini lantaran pasar atau tempat di mana orang jual beli itu dianggap sebagal sebuah tempat yang di dalamnya penuh dengan penipuan, sumpah palsu, janji palsu, keserakahan, perselisihan, dan keburukan tingkah polah manusia lainnya. Terkait dengan tindak penipuan dalam perdagangan, Rasulullah SAW bersabda yang artinya “Siapa saja menipu, maka ia tidak termasuk golonganku”. (HR. Bukhari).

  1. Menepati janji

Penjual dan pembeli dituntut untuk selalu menepati janji. Misalnya janji waktu pengiriman, kualitas dan kuantitas barang, warna, ukuran, dan spesifikasi, layanan puma jual, garansi, dan lain sebagainya. Pembayaran oleh pembeli juga sesuai dengan jumlah dan waktu yang diperjanjikan.

  1. Murah Hati

Dalam suatu hadits, Rasulullah SAW menganjurkan agar para pedagang selalu bermurah hati dalam melaksanakan jual beli. Murah hati dalam pengertian ramah, sopan, murah senyum, suka mengalah, dan tetap penuh tanggungjawab. Sabda Rasulullah SAW:

“Allah berbelas kasihan kepada orang yang murah hati ketika ia menjual, bila membeli dan atau ketika menuntut hak”. (HR. Bukhari).

  1. Tidak melupakan akhirat

Secara lahirian, perdagangan adalah aktivitas duniawi. Sedangkan mendirikan shalat adalah kewajiban yang lebih bersifat ukhrawi(kepentingan akhirat). Keuntungan akhirat lebih utama ketimbang keuntungan dunia. Maka dari itu, para pedagang tidak boleh menyibukkan dirinya semata-mata untuk mencari keuntungan materi duniawi dan meninggalkan keuntungan akhirat. Sehingga, jika datang waktu shalat maka mereka wajib melaksanakannya sebelum habis waktunya.

3.   Tempat

Perdangan hendaknya dilakukan di tempat yang baik yang memungkinkan penjual dan pembeli dapat melakukan tawar-menawar dan saling merelakan dalam bertransaksi. Islam melarang perdagangan yang dilakukan di masjid. Perdagangan di masjid merupakan tindakan yang tidak etis sehingga harus dihindari.

4.    Proses perdagangan

Proses perdagangan harus dilakukan sesuai dengan syariat. Untuk keperluan ini harus dipenuhi adanya:

  1. Aqid,yakni pihak yang melakukan akad jual beli, yakni penjual dan pembeli. Keduanya harus ithlaq al-tasharruf (memiliki kebebasan pembelanjaan), tidak ada paksaan yang tidak dibenarkan, muslim (jika barang yang dijual semisal mushhaf), dan bukan musuh (jika yang dijual berupa alat perang).
  2. Ma’qud ‘alaih, yakni barang yang diperjualbelikan. Syaratnya harus suci, bermanfaat menurut kriteria syari’at, dapat diserahterimakan, dalam kekuasaan pelaku akad dan teridentifikasi oleh pelaku akad.
  3. Shighat Ijab dan Qabul. Kalimat transaksi jual beli tidak disela oleh pembicaraan lain, tidak disela oleh terdiam yang lama, ada persesuaian antara pernyataan ijab dan qabul, tidak digantungkan kepada sesuatu yang lain dan tidak ada batasan masa.

Demikianlah pembahasan yang dapat dilakukan mengenai etika dagang syariah. Transaksi antar manusia dalam memenuhi kebutuhan ekonominya sering kali disebut dengan bisnis yang pada hakikatnya juga sebuah perdagangan. Seseorang yang bekerja di perusahaan pada hakikatnya adalah menjual jasa ketenagakerjaan dan perusahaan membelinya. Dalam perkembangannya etika dagang syariah juga meluas menjadi etika bisnis syariah.  Demikianlah uraian yang dapat diberikan dalam tulisan ini, semoga bermanfaat, amin.

*) Penulis adalah widyaiswara pada Balai Diklat Keuangan Malang dan doktor ekonomi Islam alumni UIN Alauddin Makassar.

DAFTAR PUSTAKA

Alquran dan Terjemahnya. Jakarta: Departemen   Agama RI.

Az-Zuhaili, Wahbah. 2011. Fiqih Islam wa Adillatuhu, Jilid 5. Jakarta: Gema Insani.

Bertens, K. 2011. Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Darmansyah, Wawan. 2009. Bagaimana Nabi Muhammad SAW Melakukan Bisnis. http://umum.kompasiana.com

Dinata, Arda. tanpa tahun. Etika Berdagang. http://www.miqra.blogspot.com

Fauzi, Imron. 2010. Etika Bisnis Rasulullah. http://www.muslimdaily.net

Fuadi, Suud. 2008. Ekonomi Bisnis Syariah. http://suud83.wordpress.com

Gibraltar, Akhmad. 2010. Panduan Bisnis Ala Nabi Muhammad. http://bisnis-berakhlak.blogspot.com

Hidayatullah, M. Ismail. tanpa tahun. Adab Berdagang Dalam Islam.http://www.muslimbusana.com.

Kitab Sembilan Hadis Digital. Lidwa Pusaka.

Qardhawi, Yusuf. 1995. Peran Nilai dan Moral Dalam Perekonomian Islam. Jakarta: Robbani Press.

Syafwan, Ahmad  Asyhar. 2010. Perdagangan Dalam perpektif Theologi, Etika, dan Hukum Islam. http://solusinahdliyin.net.

Shihab, Qurais. 2009. Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati.

Suheri. 2008. Perdagangan Dalam Aquran dan Hadis. Suherilibs.files.wordpress.com.

[1] Shafwan, Ahmad Asyhar. 2010. Perdagangan Dalam  Perspektif Teologi, Etika, dan hukum Islam. http://solusinahdliyin.net

[2] Ismail, Muhammad. tanpa tahun. Adab Berdagang Dalam Islam. http://www.muslimbusana.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *